Sabtu, 30 April 2011

Aku di tuduh Wahabi (Pujian dalam hujatan….!!!)

Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran & Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi
Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi & Wali .… Akupun dituduh Wahabi

Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Akupun diklaim sebagai Wahabi
Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim, Akupun dipasangi platform Wahabi

Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Akupun dijuluki Wahabi
Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Akupun diembel-embeli Wahabi

Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i
Akupun dihujat sebagai Wahabi
Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ajarkan … Akupun dikirimi “berkat”  Wahabi

Ketika aku takut mengatakan bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala itu dimana-mana sampai ditubuh babipun ada…  Akupun dibubuhi stempel Wahabi
Ketika aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan jenggot, memotong celana diatas dua mata kaki, …,…., Akupun dilontari kecaman Wahabi

Ketika aku tanya apa itu Wahabi…?
Merekapun gelengkan kepala tanda tak ngerti
Ketika ku tanya siapa itu wahabi…?
merekapun tidak tahu dengan apa harus menimpali

Tapi…!
Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah… Maka aku rela mendapat gelar  Wahabi !
Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala … Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi !

Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi !
Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam … Maka akulah pahlawan Wahabi !

Ada yang bilang.…. Kalau pengikut setia Ahmad shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.
Ada yang bilang….. Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu sedang memujimu, Pujian dalam hujatan….!

Oleh: Ahmad Zainuddin

Memutus urat nadi Teroris



DARI AKAR PERMASALAHANNYA 
Terorisme atas nama jihad kian menggeliat belakangan ini di negeri kita. Aksi bejat tersebut kini lebih frontal, terang-terangan mengarahkan meriam takfir (pengkafiran) kepada siapapun juga di luar kelompoknya, lalu tanpa segan mengkonversikannya menjadi darah yang mengalir. Aksi-aksi berdarah yang mereka lakoni dengan mengatasnamakan Islam benar-benar tidak bisa dicerna akal sehat. Fitrah dan nurani yang luhur sudah pasti menolak, apatah lagi hati yang bercahaya dengan sinar ilmu yang sejati tentang Islam.
Tidak bisa dibayangkan apa yang akan diucapkan oleh imamnya para Tabi’in, al-Hasan al-Bashri (wafat: 110-H), jika beliau menyaksikan fitnah takfir yang terjadi di zaman kita ini, sementara di zamannya sendiri (ketika bergolaknya pemberontakan Ibnul Asy’ats) beliau pernah mengatakan:
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُحَرِّمًا لِدَمِ أَخِيهِ وَعِرْضِهِ وَمَالِهِ وَيُمْسِى مُسْتَحِلاًّ لَهُ وَيُمْسِى مُحَرِّمًا لِدَمِ أَخِيهِ وَعِرْضِهِ وَمَالِهِ وَيُصْبِحُ مُسْتَحِلاًّ لَهُ
“Di waktu pagi seorang laki-laki mengharamkan (tumpahnya) darah saudaranya, begitu pula kehormatan dan hartanya, namun di waktu sore tiba-tiba dia sudah menghalalkannya. Di waktu sore seorang laki-laki mengharamkan (tumpahnya) darah saudaranya, begitu pula kehormatan dan hartanya, namun di waktu pagi tiba-tiba dia sudah menghalalkannya.” [Shahih, at-Tirmidzi no. 2198, dinukil dari Kasyful Astaar hal. 14]

Rabu, 20 April 2011

Dari Pada Pacaran Mending Langsung Nikah Saja

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد

Tulisan ini untuk kawan-kawan yang lagi dimabuk cinta…
Tulisan ini untuk kawan-kawan yang lagi asyik bersiap-siap untuk ngapel…
Tulisan ini untuk kawan-kawan yang lagi asyik mengobral janji…
Tulisan ini untuk kawan-kawan yang lagi asyik pacaran…
Kawan, sebagai seorang muslim ada beberapa hal yang wajib kita yakini dan taati;
1. Islam mengharamkan untuk mendekati perbuatan zina dengan segala macam sarananya, apalagi sampai berzina.

{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء: 32]

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al Isra: 32)
Di dalam ayat ini Allah Ta’ala melarang seluruh hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya yaitu dengan melakukan sebab-sebab dan sarana-sarana yang menghantarkan kesana. (Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsiri ayat di atas)
Larangan mendekati zina, lebih keras daripada larangan melakukannya, karena berarti larangannya mencakup seluruh sebab dan sarana yang menghantarkan kepada zina. Karena siapa yang berdiri di sekitar batas terlarang dikhawatirkan akan masuk ke dalamnya. (Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa’dy ketika menafsiri ayat di atas)
Ayat di atas juga, mengabarkan bahwa zina adalah perbuatan jenis fahisyah, yang maknanya adalah yang perbuatan yang buruk menurut syari’at Islam, akal dan fitrah manusia, karena di dalamnya terdapat sikap lancang terhadap hak Allah Ta’ala, hak pasangannya dan pengrusakan terhadap hubungan suci dan tercampurnya keturunan. (Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa’dy ketika menafsiri ayat ini)

Doa Ketika Mendapatkan Pujian Dari Orang Lain

(اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ (وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ

Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. [Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan]
HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761

Minggu, 17 April 2011

Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah


Oleh: al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Buletin Al-Hujjah Vol: 11-IX/Jumadil Ula-1429/Mei-08
Dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 kelompok dan hanya satu kelompok yang dipastikan selamat dan jaya di dunia dan akhirat. Para ulama kita sepakat bahwa satu kelompok yang dijamin selamat tersebut adalah kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun seiring waktu, hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi semakin pudar dan asing, bahkan bertolak belakang dengan paham keumuman. Tulisan ini mencoba menuntun Anda dalam memaknai Hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH ialah: Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah ‘Alaihi Asholatu wa Sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu’anhum Ajma’in. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya Radhiyallahu’anhum Ajma’in.
As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk [Lisanul ‘Arab: VI/399]
Sedangkan menurut ulama ‘aqidah, as-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah as-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengiku-tinya akan dipuji dan orang-orang yang menyalahinya akan dicela. [Buhuuts fii ‘Aqidah Ahlis Sunnah, hal. 16]