Selasa, 21 Desember 2010

Syubhat yang telah Usang (bag. 1)

Syubhat yang telah Usang (bag. 1)


Sebuah catatan curahan hati..

Muqodimah
Ada sebuah buku yang cukup menarik berjudul “Sekuntum Rosela Pelipur Lara”, yang di tulis oleh seorang “Mujahid” (maaf, jika saya harus menandakutipi kata _mujahid_, mengingat, gelar ini hanya di sematkan oleh fans-nya saja secara sepihak).
Buku ini bukan buku novel fiksi cinta yang mengharukan, bukan juga judul sebuah antologi (kumpulan) puisi melankolia karya penyair ternama, apalagi judul cerpen yang di muat di komik-komik, tidak, sekali lagi buku itu tidak demikian. Memang terlintas judul buku tersebut nampak seperti kisah dramatis romantis yang berujung pada duka mendalam, padahal mah tidak. Sedikit cerita, kami mendapatkan buku itu dari seorang teman, awalnya kami tidak berniat meminjam buku itu, tetapi karena teman kami menawarkan (pinjaman) bukunya, maka kamipun meminjamnya untuk beberapa hari. Tidak hanya sampai disitu, teman kami juga menawarkan untuk memperlihatkan video (via laptop) bedah buku “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?” yang di dalam video itu ada 3 (tiga) pembicara, yang paling menarik adalah pembicara yang terakhir, beliau adalah salah satu dari para da’i JAT (Jama’ah Anshorut Tauhid) pusat, yang kabarnya, setiap bulannya beliau mengisi kajian rutin di IAIN Syekh Nurjati cirebon. dengan suara yang lantang melintang, nada yang keras dan balutan emosi yang berbalut-balut, (semua itu tercermin dari ekspresi wajahnya), beliau utarakan keberatan pengklaiman penamaan Salafi oleh pihak yang tidak disukai oleh beliau dengan alasan-alasan tersendiri untuk kemudian beliau jatuhkan kredibilitas ustadz-ustadz dan syaikh-syaikh dari kalangan salafiyyun. Dari situlah kami bisa mengetahui, betapa bencinya kalangan Hizbiyyun dan Harokiyyun kepada Salafiyyun, dan betapa semangatnya mereka ingin merusak citra keilmiyahan salafiyyun dengan umpatan-umpatan yang tidak terpuji dan tidak bijak.
Barangkali dengan adanya sekelumit catatan ini, banyak pihak yang tidak setuju, minimalnya geram, dan itu sah-sah saja.. namun, terlepas semua itu selagi kritik adalah hal yang wajar, tanpa ada maksud untuk merendahkan, menghujat dan mendiskreditkan, itu mah tak soal. Dan kami tidak menutup kemungkinan juga untuk menerima sumbangsih kritikan dan saran ilmiyah –tentunya, tanpa ada emosi yang meluap luap- dari pihak manapun jua. Satu hal yang perlu diketahui, kami menulis catatan ini sama sekali tidak di ikhtiarkan untuk melukai, membuat sakit hati dan membuat sedih, apalagi mengobarkan api permusuhan, tapi, mengajak pembaca semua untuk besikap lebih bijak dan mawas diri dengan penuh pertimbangan Syari’at yang di bangun di atas Al quran dan Sunnah-sunnah Rosululloh Sholallohu ’alaihi wasallam ‘ala fahmi As Salafush-Sholih dalam menyikapi berbagai problematika umat.
Mungkin juga terbesit dalam benak pembaca satu dua pertanyaan. (kami) seorang penuntut ilmu rendahan kok berani-beraninya berkomentar (mengkritisi lagi!) sebuah buku yang di tulis oleh seorang “Mujahid” (dalam tanda kutip) yang perjuangan dan pengorbanannya demi islam begitu tulus dan besar dari mulai di Afghanistan, Filipina, tak terkecuali di Indonesia, yang dunia telah mencatatnya, tercecer di berbagai media.
Maka kami akan menjawab: perlu ada penekanan disini, bahwa catatan ini adalah sebuah catatan yang –insya Alloh- semaksimal mungkin lebih cenderung bertujuan untuk mendatarkan sebuah permasalahan, atau (terserah bila banyak tidak setuju) catatan ini adalah sebuah jawaban atas kekeliruan banyak orang dalam menyikapi dakwah dan amal kaum salafiyyun yang terdzolimi. Karena walau bagaimanapun juga kami tidak senang bila posisi Ahlussunnah salafi selalu di pojokkan sebagai masyarakat yang gemar menghujat “mujahidin” di belahan dunia, Ashobiyyah-yang hanya mendengarkan perkataan ustadz dan syaikhnya saja, tidak mengenal fiqhul waqi’ (realitas), selalu mengAhlis sunnahkan sendiri dan mengAhli bid’ahkan kelompok lain. Salafi adalah Murji’ah, serta sederet tuduhan lainnya, puncak dari tuduhan itu (walau ada tuduhan yang paling puncaknya yang nanti tersebutkan) bahwa Salafi adalah (maaf) Pelacur Aqidah.. Na’udzubillah. Ini kenyataan, benar-benar ada termaktub di dalam buku “Sekuntum Rosela Pelipur Lara”. Barangkali sikap keras dan pedas yang di pilih di dalam buku terkhirnya adalah sikap balas dendam terhadap sebuah buku yang membantahnya yang buku tersebut telah menyudutkan diri si penulis dan membuat gerah “mujahidin”, yah, kita maklumi saja…

Kembali kepada inti permasalahan, ya, sebuah buku yang jika dibaca sampai selesai, pastinya akan menaburkan benih-benih syubhat yang jika terus menerus di biarkan, benih benih syubhat itu akan tumbuh subur di dalam hati dan pikiran yang akhirnya menorehkan sujumlah luka lahir batin (baca: kecacatan aqidah)
Memang, buku itu terkesan buku yang haq, karena dalil-dalil al quran dan hadits nabi serta qoul (perkataan) para “ulama” dan ulama sunnah yang berlimpah ruah, yang sebenarnya kurang tepat sasaran jika di korelasikan dengan Alquran dan hadits yang di hadapkannya, sehingga tak heran di dalam buku tersebut melahirkan pemahaman yang berbeda karena berangkat dari kekeliruan memahami ayat alquran dan hadits nabi. Maka jika seorang manusia awam membaca buku tersebut, akan mudah termakan ganasnya syubhat yang di lancarkan oleh penulis, karena orang awam tersebut tidak punya filter untuk membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Dan jika yang membaca buku itu adalah seorang yang jalan dakwah dan aqidahnya agak-agak sama dengan penulis yang mempunyai semangat tinggi untuk membela islam dan sekuat tenaga (walau tanpa ilmu) Berjuang menegakkan hukum hukum Alloh Ta’ala (begitu, sangka baik kami), atau sama-sama mempunyai bibit-bibit jiwa pemberontak kepada penguasa muslim, dan lain sebagainya, maka menurut sangka mereka, buku ini merupakan suplemen dasar perjuangan jihad, membawa semangat baru, sebuah hujjah yang sangat kuat karena penulisnya lebih cenderung di ilhami oleh keyakinan yang haq [?]
(dan sangkanya juga) kita semakin yakin atas kebenaran ini [??]
Lalu tak jarang, jika buku tersebut di jadikan sebagai rujukan dan referensi paling utama (ter-afdhol) oleh sebagian kalangan yang sejatinya punya pijakan pemahaman yang serupa, berhaluan (maaf) khowarij. Baik cara merujuknya dengan hanya mengambil simpulan singkat penulis, ataupun langsung meng-copy paste (jika tidak mau dikatakan menjiplak) bagian perkataan para “ulama” dan ulama sunnah, demi kepentingannya belaka dan demi memantapkan keyakinannya belaka tanpa ada kemauan usaha untuk merujuk kepada kitab/ buku aslinya serta penjelasan dari ulama yang sebenarnya. Artinya, kita janganlah menerima nukilan nukilan sebuah buku secara mutlak, mentah mentah dan terpotong potong tanpa terlebih dahulu menimbang nimbang dengan pertimbangan ilmu syar’i yang hakiki, yang telah di sampaikan oleh Ulama Ahlussunnah wal jama’ah, baik berupa tulisan maupun lisan dalam masalah takfir, pemberontakan kepada penguasa muslim, demonstrasi dan lain sebagainya. Yang jelas, yang perlu di garis teballi disini adalah keikhlasan niat dalam mencari kebenaran sehingga ilmu yang haq bisa mudah masuk ke dalam hati kita, bukan semata mata karena ada suatu kepentingan atau terselip sifat ujub dan sombong.
Kemudian, namun, jika yang membaca buku tersebut adalah orang orang yang mempunyai bekal ilmu syar’i yang -insya Alloh- berada di atas manhaj Ahlussunnah dalam makna sebenarnya, maka syubhat ganas itu akan mudah termentahkan , kalaupun ada syubhat yang merembes ke hati, akan mudah terpinggirkan.
Salah satu dari sekian banyak syubhat yang ada, adalah pengkafiran terhadap semua Negara di dunia baik Negeri mi’rajnya nabi sampai negeri wali songo, semua sama, (begitu kata penulis) serta oknum-oknum yang bergerak di dalam pemerintahan.
Bahkan, mereka sampai memurtadkan semua jajaran yang berkecimpung dalam pemerintahan itu..na’udzubillah.lebih ironisnya lagi, ada sebuah isyarat dari penulis dan kawan seperjuangannya mengkafirkan kaum salafiyyun yang klaim oleh mereka sebagai murji’ah. [Kita memohon kepada Alloh atas marabahaya fitnah ini]
Sungguh, sikap ini bukan hanya suatu sikap yang telah berani dan hanya mau menang sendiri,tapi juga sifat yang sudah kelewat takabur. Coba bayangkan, manusia di dunia ini, semua di kafirkan kecuali yang sepaham dengan mereka, seakan akan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi ini, hanyalah kavling milik penulis dan yang sepaham dengan mereka saja dan merupakan area terlarang bagi muslimun yang tidak sepaham dengan mereka. Sebenarnya sangat mudah sekali kita mengenali dan mengetahui siapa teroris dan siapa khowarij kalau sekiranya kita mau sedikit jujur dan sportif. tapi, karena kita sudah terlanjur bangga terhadap aksi heroik para “mujahid” Indonesia yang menimbulkan decak kagum yang kadang berlebihan tanpa di barengi suatu sikap berdasarkan pertimbangan syari’at. Maka yang terjadi adalah suatu kebatilan seolah olah menjadi suatu kebenaran, malah kebenaran itu sendiri tersamarkan, disebabkan meamahami suatu ayat alquran, hadits nabi, serta perkataan perkataan “ulama” dan Ulama sunnah, secara keliru. Wallohu a’lam
akhirnya,semoga Alloh memperkenankan do'a kita agar benar benar ditunjukkan hidayah al-haq dan berjalan di atas manhaj yang Haq.

Hamba Alloh yang faqir
==================
http://alibaewis-sindikat.blogspot.com/2010/08/syubhat-yang-telah-usang-bag-1.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar